Kamis, 03 Maret 2011
RESENSI BUKU
Dendam Mati Sang Sahabat
| Judul Buku : 12.00a.m Penulis : Veven SP. Wardhana Tebal Buku : Xiii+176 Penerbit : Gagas Media Tahun Buku : 2005 |
Entah sejak kapan Clara dan Inez tak sadar Boy mulai menyentuh tubuh mereka. Tidak hanya /.abat itu. Ketika jam sekolah Inez sengaja tidak masuk kelas, dia mengirim SMS pada Clara untuk ketemuan di suatu tempat. Tak lain dan tak bukan tempat itu adalah rumah Clara sendiri. Inez sengaja memamerkan adegan ranjangnya bersama Boy kepada Clara. Pertengkaran berujung kematian Clara tidak dapat dihindari. Clara yang sedang hamil anak Boy tewas ditangan sahabatnya sendiri,Inez. Clara ditimbun dengan tanah dekat pohon pisang. Tak ada kain kafan, hanya plastik yang membungkus tubuh Clara.
Sekarang, Inez telah mempunyai kekasih, namanya Alvin. Kekasihnya satu kampus, satu fakultas, satu jurusan dan satu kelas dengan Inez. Clara muncul kembali. Clara menjadi gadis cantik saat menggoda Alvin dan berubah jadi perempuan berwajah seram pada Inez.
Hal yang menarik dalam novel ini adalah penulis menghadirkan dua karakter yang berbeda pada tokoh-tokohnya, yaitu Inez yang percaya adanya setan, hantu, dedemit dan sosok Alvin yang sama sekali tidak percaya dengan hal seperti itu. Penulis memaparkan gambaran umumnya pada kehidupan nyata bahwa seseorang yang tidak mempercayai setan, maka setan itu tidak akan menampakkan diri padanya. Hal menarik lain dalam novel karya Veven ialah kalimat yang diselipkan dalam percakapan tokohnya Clara bahwa “setan, jin, arwah gentayangan, dan sebagainya hanya berkembang dalam imajinasi kita, mereka mampu menakuti tapi nggak menyakiti perasaan kita…”
Alur dalam novel ini merupakan alur campuran. Setiap bab dibuat cerita dari pengakuan masing-masing tokoh. Penulis juga mampu menyajikan cerita seram dengan bahasa yang renyah dan mudah dipahami. Kemampuan penulis dalam mendiskripsikan sosok menyeramkan juga tergolong apik sehingga meskipun hanya membaca orang lain dapat merasakan sensasi seramnya.
Kekurangan novel ini ialah tidak disebutkan setting tempatnya, hanya diceritakan keadaan lokasinya tanpa ada nama kota. Penulis memberikan sad ending dengan kematian Inez dalam novelnya. Namun terlepas dari kekurangan tadi, novel ini layak dibaca untuk pelajar, mahasiswa dan masyarakat pada umumnya agar menyadari jika peluang hancurnya jalinan persahabatan akibat adanya rasa iri dan ingin menang sendiri sangatlah besar.
Puisi
Puisi untuk Bintang
Malam ini mendung
Tetesan air langit baru saja berlalu
Sepi…
Hening
Anginpun enggan menyentuh tanah
Pohon-pohon membisu
Jangkrik tak bernyanyi
Kodok tertidur lelap
Dan nyamuk-nyamuk bersorak sorai
Menanti kelahiran
Namun,
Ada sesuatu di angkasa yang gelap
Bahkan mendung enggan pergi darinya
Satu bintang menampakkan pesonanya
Membuat mata ini tak mau berkedip
Indahnya…
Dia begitu tegar
Kuat tak terkalahkan oleh pekatnya mendung
Seakan menyelipkan ketenangan di hatiku
Mengajakku tersenyum menghadapi dunia
Bintangku..
Lihatlah bintang itu
Dia akan tersenyum untukmu
Dan kaupun akan melihat senyumku di sana
Semarang, agustus 2008
Cerpen
Cinta Rasa Strowberry
Hai? Kenalin namaku Asri Anisa Qisthi, emm… pasti kalian menebak kalau aku ada something dengan buah merah yang imut itu. Yaa aku suka sekali es krim rasa stroberry! Cerita ini berdasar pada pengalaman pribadi dengan dibumbui penyedap rasa kisah cinta para sahabat dan teman-temanku. Aku ingin semua pengalaman itu tidak menjadi rongsokan di dalam otakku, sehingga aku mengabadikannya dalam tulisan carut-marut ini. Sebelumnya aku meminta maaf terlebih dahulu kepada pihak-pihak terkait yang mungkin terdapat kesamaan judul, karena tentu saja aku tidak mampu untuk mengecek satu persatu judul-judul cerpen di Indonesia, heee. Ide ini muncul begitu aja setelah sahur pada tanggal 26 Agustus 2010. Cerpen Cinta Rasa Stroberry ini spesial untuk semua sahabat-sahabat aku, teman-teman, dan someone yang tidak perlu aku sebut namanya, thankz coz selama aku kuliah kalian selalu support aku buat ikut lomba-lomba sastra di kampus (belum pernah menang sich hahaha) tapi bagiku semua itu sangat berarti. Kemudian spesial juga buat Pak Arief yang cakep dan imut (hehehehe piizz pak…) Dosen Bahasa Indonesia ketika semester tiga, juga ga’ lupa sama Setia Naka Adrian, yang namanya terkenal seantero kampus kesayanganku juga kampus-kampus lain sebagai seorang sastrawan hebat menurutku. Thankz uda mau menghibur diriku sewaktu aku benar-benar down. Alhamdulillah…. Puncaknya ucapan terima kasihku yang begitu banyak kepada the ones God, Allah. Waaah … panjang banget pembukaannya… heee^ selamat menikmati semoga bisa membuat tersenyum karena senyum itu ibadah ^_^.
Cerita ini bermula ketika Okta mulai menjadi mahasiswa baru, semua ga ada yang berubah mulai dari penampilannya yang katrok sampai masalah cowok dia ga pernah peduli. Sampai ketika masa OSPEK, hemh… tidak seperti biasanya, mungkin cowok- cowok itu lagi sakit mata karena terus nggodain minta nomer hape dan tidak seperti biasanya pula Okta yang tadinya cuek kali ini dia merasa melayang ke atas pohon (eh salah.. ke langit hee) dengan gombalan para cowok itu. Sesampainya di kos, uuuhhgg hape bunyi terus siang malem entah sms atau telpon. Sampai suatu hari ketika Okta selesai menjemur pakaian… hapenya menyanyikan lagu what I’ve done tanda ada panggilan masuk. “halo, Assalamu’alaikum” kata cowok di seberang, “wa’alaikum salam” jawab Okta. Percakapan yang dimulai dengan perkenalan berlanjut sampai cowok yang mengaku bernama Ramdan itu menyatakan cintanya kepada Okta dan mengajaknya bertemu malam itu juga. Perasaan bingung, takut, deg-degan bercampur aduk kayak es buah yang beraneka macam. “duuuh…. Gimana ini ya?? Dateng? Engga? Dateng engga ya??” kata Okta sembari menghitung jari tangannya yang tentu aja masih berjumlah sepuluh, hahahahahahaha. Finally, Okta memutuskan untuk menemui Ramdan.
Tepat pukul 19.00 Ramdan menjemput Okta, pandangan pertama.. Okta begitu terkesima melihat cowok di depannya itu. “Cool banget….”katanya dalam hati. Ramdan memakai kaos warna putih dan jaket jins warna item begitu kompak dengan motor satria miliknya itu. Apa yang akan terjadi? Kalian bisa meramal kan? Benar saja Okta jatuh cinta yang pertama kalinya dalam hidup dan pilihan itu jatuh pada Ramdan. Mereka langsung jadian malem itu juga. Seperti halnya kalian, kisah cinta ga ada yang mulus gitu aja, banyak sekali problem yang sebenarnya sepele tapi menjadi besar. Sebagai orang yang pacaran pertama kali, mereka sangat norak, kemana-mana berdua mulu seakan dunia milik nenek moyang mereka. Layaknya pengantin baru mereka begitu romantis sampai saat UAS tiba, Ramdan sama sekali ga pernah telpon bahkan smsnya hanya “met bobok” tiap malam. Ramdan hanya ingin Okta bisa konsentrasi sama belajarnya sehingga nilai akhir nanti bisa memuaskan. Tetapi, maksud Ramdan tadi ga disambut baik oleh Okta, dia merasa selama ini telah tertipu dengan sifat kekasihnya yang selalu care. Puluhan sms dikirim Okta untuk Ramdan dengan isi sms ngomel-ngomel ga jelas. Ketika itu Ramdan hanya diam dan tidak menanggapi sms dari ceweknya, dia ga ingin masalah sepele tadi jadi melar. Lagi-lagi miss komunikasi, Okta seakan-akan mau meledak kepalanya menghadapi tingkah Ramdan.
Dua minggu berlalu UAS telah berakhir, begitu pula dengan hubungan mereka ga jelas akhirnya. Hari selasa tepat setelah Ramdan selesai ujian dia langsung menemui Okta. Ramdan menjelaskan panjaaaang kali lebaarr kali tinggiii (volume donk hehhehe.. ) sampai akhirnya pun Okta mengerti dan memaafkan Ramdan, “nah…, sebagai hukumannya kamu harus beliin aku stroberry sama es krim rasa stroberry juga” kata Okta yang selama ini sangat membenci buah mungil itu karena rasanya. Otomatis Ramdan langung mengajak kekasihnya mencari buah stroberry di daerah Bandungan, Semarang. Benar saja niat Okta untuk ngerjain cowoknya itu berubah menjadi dirinya yang dikerjain Ramdan, hahhahaha (makanya jangan suka ngerjain orang). Mau ngga mau Okta harus menghabiskan Stroberry satu keranjang, hahahahahahaa muntah-muntah dech.. eh eh kok ga muntah ya? Okta justru suka dan untuk pertama kalinya dia makan buah stroberry. Menikmati buah mungil itu di daerah pegunungan duduk beralas rumput bertetangga kuda serta memandang pemandangan yang begitu indah membuat mereka betah berjam-jam di sana.
Hubungan mereka akhirnya terselamatkan. Mereka pulang dengan perasaan bahagia. Namun, seperti kataku di awal, “ga ada jalan cerita cinta tanpa masalah”. Kali ini berbeda, masalah timbul dari ketiga sahabatnya. Emprit, U’un dan Lala ga pernah peduli lagi sama Okta, mereka yang tadinya suka nongkrong bareng sekarang jauh dari Okta. Paling ngga, itu yang dirasakan Okta sekarang. Otomatis Okta bingung dengan tingkah ketiga sahabatnya.
“Cin…., kalian kenapa sich sama aku?? kok kaya gini?? aq punya salah ya?? ma’afin aku donk…” kata Okta ketika ia bertemu ketiga sahabatnya di kampus. Layaknya orang yang sedang ngambek…, Emprit, U’un dan Lala ga menjawab. Apa yang dipikirkan Okta semakin semrawut ga karuan. Merasa ga diperhatiin, Okta pun berlalu meninggalkan sahabat-sahabatnya. Malam harinya…. Okta update status facebook yang isinya seperti ini:
Sahabat itu saling mengerti
Sahabat itu selalu memaafkan
dan…. sahabat itu tidak pernah saling menyakiti…
kalimat demi kalimat itu menggambarkan bagaimana Okta begitu kecewa dengan ketiga sahabatnya.
Akhirnya, si Emprit memberi komentar “ciiin… kamu marah ya sama kita?”. “Kok kamu yang marah? kan justru kamu yang nyuekin kita bertiga? kamu selalu sibuk sendiri sama cowok kamu, aku kangen saat-saat kita berempat nongkrong bareng di tempat biasa” lanjut sahabat Okta yang paling kecil sendiri tubuhnya itu (hehehee piiis ciin??). Okta kemudian sadar apa sebenarnya yang membuat sahabatnya ngambek. “OOooo jadi itu to masalahnya???” kata Okta dengan logat bahasa jawanya yang medok. “Engga kok ciiiin,,,, aku justru nunggu sms dari kalian,, kalau kalian ngajak keluar ya ayok ayok aj…,, tapi karena selama ini kalian ga pernah sms yaa aku pikir kalian ga peduli lagi sama aku” kata Okta menambahi. “Kalau seperti itu masalahnya, berarti kamu sama aku selama ini salah paham donk? ya uda dech…. sekarang kita baikan lagi ya ciiin…?” kata Emprit. Okta pun menjawab dengan penuh semangat “Oke ciiin!”.
Hal-hal seperti inilah yang harus kita ambil pelajarannya. Sehingga layaknya seorang peneliti kita bisa menyimpulkan bahwa
1. kita harus sadar dan mengerti kalau di Bumi ini ada berbagai macam watak, karakter dan sifat manusia
2. kita tidak boleh egois memandang keburukan dengan satu sisi diri kita sebagai acuannya
3. ssperti apa yang telah dikatakan teman sekamarku, kita mencintai seseorang satu paket dengan segala sifat baik dan buruknya, jangan kita bandingkan kekasih kita dengan orang lain
4. selesaikan segala permasalahan dengan sebaik-baiknya meskipun masalah itu sangat sepele sekalipun
5. jangan pernah kita tinggalkan sahabat kita, karena merekalah yang setia di saat kita sendiri
6. selalu ungkapkan apa yang kita rasakan kepada teman, pacar, atau sahabat jika kita merasakan ada something tak menyenangkan, karena ingatlah mereka bukan ahli nujum yang bisa mengetahui uneg-uneg kita yang berada di dalam hati.
Naaaah… itu curahan hati sekaligus cerita amburadul,, semoga bisa mengisi waktu senggangmu yang sia-sia…….. hehehehe^ ikuti kisah selanjutnya yaa frend….
Cerpen
Cerpen
Diary Cintaku
Sore yang begitu indah hingga ku merasa enggan tuk melupakannya. Tanggal 10 Agustus di pelataran kampus, aku bertemu dengannya. Sesosok cowok yang murah senyum dan suka bercanda. Aku tak pernah menyangka perjumpaanku dengannya merupakan awal dari diary cintaku di kampus ini. Aku jadian sama dia satu minggu dari saat itu. Yaph.! Sangat cepat. Mas luqman berkata seperti ini: “dek aku sayang sama kamu, suaramu mirip sekali dengan kekasihku yang telah tiada”, jujur waktu itu aku bingung, ku berpikir kalo ia benar-benar sayang sama aku, kenapa hanya karena aku mirip kekasihnya yang telah pergi itu?, aneh bukan rasanya, tapi aku terima cintanya dan ku coba tuk sayang sama dia sepenuh hati. Ku lalui hari- hariku yang indah bersamanya. Bercanda, main game, jalan-jalan menjadi kenangan tak terlupakan hingga saat ini.
Entah mulai kapan aku sadar kalau aku sayaang banget sama dia. Cara dia menggandeng tanganku dan mengelus kepalaku membuktikan kalo dia juga sayang sama aku. Dua bulan kemudian aku mendapat kabar dari ibundanya bahwa dia masuk rumah sakit. Deg! Aku kaget dan ku langsung ke sana. Ku temui Mas Luqman yang baru saja keluar dari ruang dokter bersama kakaknya. Ku tanya; “mas kenapa mas?, mas sakit apa? “ saking paniknya pertanyaan membrondong keluar dari mulutku begitu saja. Mas Luqman hanya tersenyum sambil mengelus-elus kepalaku. “ lhoh kok malah tersenyum ditanya?” kataku. “ enggak kenapa-napa dek, tadi cuma lemes aja karena belum makan” lanjutnya. Ku sempat merasa aneh saat itu, kalau memang benar hanya gara-gara laper kenapa sampai dibawa ke rumah sakit? Tapi perasaan itu ku pendam dalam-dalam tanpa aku utarakan. Minggu berikutnya Mas Luqman dilarikan ke rumah sakit tanpa sepengetahuanku. Ku baru mendapat kabar tiga jam kemudian. “Trililit- trililit..” hpku berbunyi. “Ini Ega ya?” tanya seorang cowok di seberang sana. “Iya betul, ini aku, ada apa?” jawabku. Saat itu aku tidak sadar kalau jantungku berdegup sangat kencang. Seakan-akan ku takut dan tidak mau mendengar apa yang akan ia katakan. “ Mbak…., Luqman meninggal, tadi di bawa kerumah sakit” sambungnya. Hatiku benar-benar sedih, mengapa di saat ku telah mencintainya, kini ia pergi, pergi jauh hingga tangan ini tak sanggup memegangnya .Di depan pusara, Ibundanya bercerita tentang penyebab kekasihku itu meninggal. Rokok ! ya benar rokok! Barang kebanggaan lelaki yang katanya bisa untuk mencari inspirasi kini merebut kekasihku. Yaph! Kandungan nikotin dan gas-gas berbahaya seperti karbon pada saat proses pembakaran telah memenuhi dinding alveolusnya. Jika jantung bahkan hati bisa ditransplantasi, alveolus tidak bisa. Aku sedih namun juga sangat kecewa. Di depan pusara juga ku baca rangkaian kata darinya. “Selamat tinggal untukmu, maaf atas kejahatanku padamu yang telah pergi tanpa isyarat. Seribu satu maaf ku kirimkan lewat hembusan angin malam yang dingin. Kekasih…, aku sayang kamu. Sayangku tak kan pernah hilang meski aku telah jauh. Malam itu kekasih, tidak akan terhapus dari cerita cintaku. Tawa yang terakhir kulihat dari paras ayumu. Oh bintang hatiku, aku mohon maafkan aku. Peri hatiku, lihatlah malam yang gelap, setitik bintang memancarkan cahayanya di sana.. Lihatlah dia dengan rindumu dan bintang itu akan memberikan senyumnya untukmu….” Butir-butir air mataku tak sanggup aku tahan., jatuh menetesi pusara yang masih basah dan wangi. Tuhan … aku titipkan kekasihku kepadaMu. Lalu, hari ini buku harianku akan ku tutup dan cerita cintaku aku akhiri. “The End”. Satu kalimat untukmu sayang, aku sayang kamu.
Langganan:
Postingan (Atom)
