Cerpen
Diary Cintaku
Sore yang begitu indah hingga ku merasa enggan tuk melupakannya. Tanggal 10 Agustus di pelataran kampus, aku bertemu dengannya. Sesosok cowok yang murah senyum dan suka bercanda. Aku tak pernah menyangka perjumpaanku dengannya merupakan awal dari diary cintaku di kampus ini. Aku jadian sama dia satu minggu dari saat itu. Yaph.! Sangat cepat. Mas luqman berkata seperti ini: “dek aku sayang sama kamu, suaramu mirip sekali dengan kekasihku yang telah tiada”, jujur waktu itu aku bingung, ku berpikir kalo ia benar-benar sayang sama aku, kenapa hanya karena aku mirip kekasihnya yang telah pergi itu?, aneh bukan rasanya, tapi aku terima cintanya dan ku coba tuk sayang sama dia sepenuh hati. Ku lalui hari- hariku yang indah bersamanya. Bercanda, main game, jalan-jalan menjadi kenangan tak terlupakan hingga saat ini.
Entah mulai kapan aku sadar kalau aku sayaang banget sama dia. Cara dia menggandeng tanganku dan mengelus kepalaku membuktikan kalo dia juga sayang sama aku. Dua bulan kemudian aku mendapat kabar dari ibundanya bahwa dia masuk rumah sakit. Deg! Aku kaget dan ku langsung ke sana. Ku temui Mas Luqman yang baru saja keluar dari ruang dokter bersama kakaknya. Ku tanya; “mas kenapa mas?, mas sakit apa? “ saking paniknya pertanyaan membrondong keluar dari mulutku begitu saja. Mas Luqman hanya tersenyum sambil mengelus-elus kepalaku. “ lhoh kok malah tersenyum ditanya?” kataku. “ enggak kenapa-napa dek, tadi cuma lemes aja karena belum makan” lanjutnya. Ku sempat merasa aneh saat itu, kalau memang benar hanya gara-gara laper kenapa sampai dibawa ke rumah sakit? Tapi perasaan itu ku pendam dalam-dalam tanpa aku utarakan. Minggu berikutnya Mas Luqman dilarikan ke rumah sakit tanpa sepengetahuanku. Ku baru mendapat kabar tiga jam kemudian. “Trililit- trililit..” hpku berbunyi. “Ini Ega ya?” tanya seorang cowok di seberang sana. “Iya betul, ini aku, ada apa?” jawabku. Saat itu aku tidak sadar kalau jantungku berdegup sangat kencang. Seakan-akan ku takut dan tidak mau mendengar apa yang akan ia katakan. “ Mbak…., Luqman meninggal, tadi di bawa kerumah sakit” sambungnya. Hatiku benar-benar sedih, mengapa di saat ku telah mencintainya, kini ia pergi, pergi jauh hingga tangan ini tak sanggup memegangnya .Di depan pusara, Ibundanya bercerita tentang penyebab kekasihku itu meninggal. Rokok ! ya benar rokok! Barang kebanggaan lelaki yang katanya bisa untuk mencari inspirasi kini merebut kekasihku. Yaph! Kandungan nikotin dan gas-gas berbahaya seperti karbon pada saat proses pembakaran telah memenuhi dinding alveolusnya. Jika jantung bahkan hati bisa ditransplantasi, alveolus tidak bisa. Aku sedih namun juga sangat kecewa. Di depan pusara juga ku baca rangkaian kata darinya. “Selamat tinggal untukmu, maaf atas kejahatanku padamu yang telah pergi tanpa isyarat. Seribu satu maaf ku kirimkan lewat hembusan angin malam yang dingin. Kekasih…, aku sayang kamu. Sayangku tak kan pernah hilang meski aku telah jauh. Malam itu kekasih, tidak akan terhapus dari cerita cintaku. Tawa yang terakhir kulihat dari paras ayumu. Oh bintang hatiku, aku mohon maafkan aku. Peri hatiku, lihatlah malam yang gelap, setitik bintang memancarkan cahayanya di sana.. Lihatlah dia dengan rindumu dan bintang itu akan memberikan senyumnya untukmu….” Butir-butir air mataku tak sanggup aku tahan., jatuh menetesi pusara yang masih basah dan wangi. Tuhan … aku titipkan kekasihku kepadaMu. Lalu, hari ini buku harianku akan ku tutup dan cerita cintaku aku akhiri. “The End”. Satu kalimat untukmu sayang, aku sayang kamu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar